Dakriosistitis (en:dacryocystitis)

ketika menjalani KKS di bagian mata RSU Zainal Abidin Banda Aceh saya dapat tugas referat tentang Dakriosistitis. Pembimbing saya saat itu adalah dr.Firdalena Mutia,Sp.M, beliau salah satu ahli mata yang saya kagumi baik dari cara beliau melayani pasien ataupun dari etos kerja beliau. hmm.. langsung aja kita ke topik utama ya..

Dakriosistitis adalah suatu infeksi pada kantong air mata yang terletak di antara sudut bagian dalam kelopak mata dengan hidung. Dakriosistitis biasanya disebabkan oleh karena adanya blokade pada saluran yang mengalirkan air mata dari kantong air mata ke hidung. Duktus yang terhalang menjadi terinfeksi. Dakriosistitis dapat berupa akut maupun kronik. Hal ini dapat dihubungkan dengan suatu malformasi pada duktus lakrimalis, luka, infeksi pada mata, maupun trauma.

Infeksi pada sakkus lakrimalis umumnya ditemukan pada 2 kategori usia, pada infant dan orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun. Dakriosistitis akut pada bayi baru lahir jarang ditemukan, terjadi pada kurang dari 1% dari semua kelahiran. Dakriosistitis didapat secara primer terjadi pada wanita dan lebih sering pada pasien dengan usia di atas 40 tahun, dengan puncak insidensi pada usia 60 – 70 tahun. Kebanyakan penelitian mendemonstrasikan sekitar 70 – 83% kasus dakriosistitis terjadi pada wanita, sementara dakriosistitis congenital memiliki frekuensi yang sama antara pria dan wanita.

Pada individu dengan kepala berbentuk brachycepalic memiliki insidensi yang tinggi mengalami dakriosistitis dibandingkan dengan individu dengan kepala berbentuk dolichocephalic atau mesosephalic. Hal ini dikarenakan pada tengkorak berbentuk brachycephalic memiliki diameter lubang yang lebih sempit ke dalam duktus nasolakrimalis, duktus nasolakrimalis lebih panjang, dan fossa lakrimalis lebih sempit. Pada pasien dengan hidung pesek dan muka kecil (no offense ya gan!!) memiliki resiko lebih tinggi mengalami dakriosistitis, diduga karena kanalis osseus lakrimal yang lebih sempit.

Anatomi sistem lakrimasi manusia

ANATOMI SISTEM LAKRIMALIS
Sistem lakrimalis mencakup struktur-struktur yang terlibat dalam produksi dan drainase air mata. Komponen sekresi terdiri atas kelenjar yang menghasilkan berbagai unsure pembentuk cairan air mata. Sistem eksresi mulai pada punctum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, meatus inferior. Cairan air mata disebarkan di atas permukaan mata oleh kedipan mata.

Kompleks lakrimalis terdiri atas glandula lakrimalis, glandula lakrimalis aksesorius, kanalikuli, punctum lakrimalis, sakkus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis

Air mata mengalir dari lakuna lakrimalis melalui pungtum superior dan inferior dan kanalikulus  ke sakkus lakrimalis yang terletak di dalam fossa lakrimalis. Duktus nasolakrimalis berlanjut ke bawah dari sakus lakrimasi dan bermuara ke dalam meatus inferior dari rongga nasal . Air mata diarahkan ke dalam pungtum oleh isapan kapiler, gaya berat, dan berkedip. Kekuatan gabungan dari isapan kapiler dalam kanalikuli, gaya berat, dan kerja memompa dari otot Horner yang merupakan perluasan muskulus orbikularis okuli ke titik di belakang sakus lakrimalis, semua cenderung meneruskan air mata ke bawah melalui duktus nasolakrimalis ke dalam hidung.

Pada prosesus frontalis di kantus anterior dari sakkus lakrimalis terdapat ligamen palpebral medial yang menghubungkan tarsus superior dan inferior. Bagian sakkus lakrimalis di bawah ligamen ditutupi sedikit serat dari muskulus orbikularis okuli. Serat-serat ini tidak dapat menahan pembengkakan dan pengembangan sakkus lakrimalis. Daerah di bawah ligamentum palpebral medial membengkak pada dakriosistitis akut ,dan sering terdapat fistula yang bermuara di daerah ini.

ETIOLOGI
Etiologi primer dakriosistitis adalah obstruksi nasolakrimal yang menyebabkan mukokel pada sakkus lakrimalis yang dipresipitasi oleh blokade kronik pada duktus nasolakrimal interosseus atau intramembranous. Beberapa penyakit hidung yang bisa menyebabkan terjadinya Dakriosistitis antara lain Sinusitis (maksilaris, ethmoidalis), Rinitis Vasomotor, Rinitis Hipertrofi, Rinitis Ozaena, trauma hidung, tumor cavum nasi.

Dakriosistitis akut pada anak-anak biasanya disebabkan oleh Haemophylus influenza. Pada orang dewasa, biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus β hemoliticus sedangkan dakriosistitis kronis disebabkan oleh Staphyloccus epidermidis, Streptococcus pneumonia dan jarang disebabkan oleh Candida albicans.

Pada Dakriosistitis Kongenital, kanalisasi yang tidak lengkap dari duktus nasolakrimalis memiliki peran yang penting dari patogenesis yang terjadi. Infeksi neonatal merupakan faktor penting lainnya dari perkembangan Dakriosistitis Kongenital.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk menentukan adanya gangguan pada sistem eksresi air mata dilakukan:

  • Inspeksi pada posisi pungtum.
  • Palpasi daerah sakkus lakrimal, apakah mengeluarkan cairan bercampur nanah.
  • Irigasi melalui pungtum dan kanalikuli lakrimal, bila cairan mencapai rongga hidung, maka sistem eksresi berfungsi baik (tes anel).
  • Probing yaitu memasukkan probe Bowman melalui jalur anatomic system eksresi lakrimal. Tindakan probing didahului oleh dilatasi pungtum dengan dilatators  kemudian dibilas dengan larutan salin fisiologis.

Probe Bowman

Tindakan mengaliri sistem lakrimalis bawah sebaiknya dilakukan oleh dokter ahli mata. Kegagalan dalam menentukan arah aliran cairan dapat membuat kelopak mata menjadi bengkak sehingga menyebabkan tidak ada informasi yang diinginkan muncul.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Dakriosistitis akut biasanya berespons terhadap antibiotika sistemik yang memadai, dan bentuk menahun sering dapat dipertahankan agar laten dengan tetesan antibiotika. Kompres dengan menggunakan desinfektan  dan massage dibawah area kantus juga berpengaruh positif terhadap gangguan klinis. Meskipun begitu, menghilangkan obstruksi adalah penyembuhan paling utama. Antibiotik sistemik yang dapat diberikan adalah dengan regimen sebagai berikut :

Anak-anak

  • Pasien tidak demam, keadaan umum baik, kasus ringan, diberikan amoxicillin/clavulanate 20-40mg/kg/hari peroral yang dibagi dalam tiga dosis.
  • Pasien demam, akut, kasus sedang hingga berat dirawat di rumah sakit dan diterapi dengan cefuroxime 50-100 mg/kg/hari iv dalam 3 dosis.

Dewasa

  • Pasien tidak demam, keadaan umum baik, kasus ringan diberikan cephalexin 500 mg peroral tiap 6 jam.
  • Terapi alternative berupa amoxicillin /clavulanate 500 mg peroral tiap 8 jam
  • Pasien demam dan akut dirawat di rumah sakit dengan penanganan cefazolin 1gr iv tiap 8 jam.
  • Terapi antibiotik diberikan berdasarkan respon klinik dan hasil kultur dan sensitifitas. Antibiotik intravena dapat diganti dengan antibiotik oral dengan dosis yang sebanding tergantung dari tingkat perbaikan, tetapi terapi antibiotik harus tetap dilakukan selama 10-14 hari. Antibiotik tetes topical seperti trimetorim/polymixin
  • Koreksi dengan pembedahan dapat dipertimbangkan berupa dacryocystorhinostomy setelah episode akut sembuh, khususnya pada pasien dengan dakriosistitis kronik.

Dacryocystorhinostomy
Dacryocystorhinostomy ( DCR ) adalah suatu prosedur pembedahan untuk mengembalikan aliran air mata ke  rongga hidung dari sakus lakrimal ketika saluran nasolakrimal tidak berfungsi sebagaimana seharusnya.

Proses DCR sendiri saat ini lebih populer menggunakan metode endoskopi. beberapa keuntungan dari metode ini adalah:
– dari segi estetika lebih bagus karena tidak meninggalkan scar
– bisa sekaligus melihat dan memperbaiki nasal patologinya yang dianggap sebagai kausatif dakriosistitis
– mencegah cedera dibagian medial kantus
– perdarahan lebih sedikit dan lebih mudah dilakukan daripada cara konvensional
– tingkat keberhasilan lebih tinggi

kekurangan metode endoskopi yaitu butuh seorang ahli bedah endoskopi hidung dan harganya mahal.

Indikasi:
– Epifora (airmata yang keluar terus menerus)
– Dakriosistitis kronik dengan drainase yang purulen dari kanalikulus
– Inflamasi kulit diatas sakus lakrimalis
– adanya dacryolith
– Massa sakus lakrimalis

Referensi
1. Wagner P.; Lang G.K. Lacrimal System. In: Lang G.K. ed. Ophtalmology. New York. Thieme Stuttgart: 2000.
2. S Valentine Fernandes. Dacryocystorhinostomy. http://emedicine.medscape.com/article/879096-overview diakses tanggal 19 juli 2012
3. Grant D Gilliland. Dacryocystitis. http://emedicine.medscape.com/article/1210688-overview diakses tanggal 19 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s